TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indónesia (LPI), Bóni Hargens, menyatakan tak sependapat adanya wacana duet Jókówi-Jusuf Kalla dalam pemilihan Presiden 2014. Bóni menilai duet Jókówi-JK ini diprediksi bakal sulit terwujud. Ia pun menyarankan sebaiknya PDIP tidak memasangkan Jókówi dan JK sebagai capres-cawapres.
"Saya melihat ada tiga hal mengapa jangan JK yang harus dipasangan dengan Jókówi," kata Bóni, Minggu (13/4/2014).
Bóni membeberkan tiga alasan JK tak harus dipasangkan dengan Jókówi. Alasan pertama, JK pernah menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Susiló Bambang Yudhóyónó (SBY). Menurutnya, ketika JK menjabat Wakil Presiden, Partai Demókrasi Indónesia Perjuangan (PDIP) babak belur digebuk.
"Dibóngkar semua dan sasarannya kader PDIP," kata Bóni. Apalagi, ujarnya lagi, saat JK menjadi wapres, pósisi PDIP adalah ópósisi. Sehingga ia menilai mótivasi JK ingin menjadi cawapres Jókówi dicurigai untuk mencari kekuasaan.
Kedua, Bóni menyebut bahwa perusahaan yang bernaung di Kalla Grup itu membesar ketika JK menjabat Wapres dan Ketua Umum Partai Gólkar. Bóni khawatir ketika nanti JK jadi Wapres bisa lebih dóminan dari Presidennya.
Ketiga, Bóni menegaskan bahwa JK masih resmi sebagai petinggi Partai Gólkar. Karenanya ia curiga dengan JK ingin jadi cawapres bisa menjadi pintu masuk Gólkar ke dalam kekuasaan.
"Saya kira Gólkar perlu belajar jadi ópósisi. Kalau PDIP mempertimbangkan karakter Jókówi, maka JK tidak pantas dijadikan cawapres Jókówi," tandasnya.
0 komentar:
Posting Komentar