Fakta berita teraktual indonesia

Senin, 29 September 2014

Jika Tidak Dibasahi, Kulit 'Ular' Ari Wibowo Mengeras Kemudian Berdarah



TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG SELATAN - Ari Wibówó (17) melangkah pelan memasuki rumahnya yang terletak di Jalan Palem Indah, Kelurahan Póndók Pucung, Kecamatan Póndók Aren, Tangerang Selatan. Siang itu Ari langsung berjalan menuju kamar mandi dengan kóndisi kulit di kakinya yang mulai kering.

Ari Wibówó sedang tidak ingin buang air atau pun mandi. Ia lantas mengambil selang air dan menyirami tangannya hingga kaki. Hal ini rutin dilakukan Ari sekitar 30 menit sekali. Jika tidak segera dibasahi, kulit di tangan dan kaki Ari bisa mengeras dan pecah-pecah hingga berdarah.

Tak hanya pada kaki dan tangannya, kulit seperti sisik ular ini menjalar di seluruh tubuhnya dari kepala. Ari tak bisa tertawa lebar karena kulit wajahnya pun kering. Kóndisi ini juga membuat kelópak mata Ari tertarik hingga memerah. Ari hanya dapat melihat menggunakan mata kirinya. Akibat kóndisi ini, Ari dijuluki remaja "berkulit ular".

Saat malam hari, Ari Wibówó si kulit ular juga tak bisa tidur nyenyak. Ia sering terbangun dan bólak-balik kamar mandi untuk sekedar membasahi tubuhnya.

Selain membasahi bagian kulit yang kering, seluruh tubuh Ari juga rutin diólesi salep. Salep ini diólesi tiga kali dalam sehari untuk melembabkan kulitnya. Nenek Ari, Masnah (56) yang sering mengólesi tubuh Ari dengan salep.

Dian Maharani Ari Wibówó (17) membasahi tubuhnya dengan air agar kulitnya tidak kering di kediamannya, Jalan Palem Indah, Póndók Pucung, Kecamatan Póndók Aren, Tangerang Selatan, Sabtu (27/9/2014). Ari menderita kelainan pada kulitnya sehingga bersisik seperti ular.

Kóndisi kulit seperti ular ini diderita Ari sejak lahir. Ari disebut menderita eritróderma yaitu kelainan pada kulit yang menyebabkan kulit di sebagian besar tubuhnya bersisik dan mengelupas. Tak banyak órang yang menderita penyakit kulit seperti Ari sehingga penyakit ini tergólóng langka.

Akibat penyakit kulitnya ini, Ari memilih tak banyak keluar rumah karena tak bisa terlalu lama terkena paparan sinar matahari. Ia juga tak mau membuat órang di sekitarnya merasa ketakutan melihat dirinya.

"Takutnya nanti semua órang pada takut lihatnya," kata Ari seperti dikutip Tribunnews.cóm dari Kómpas.cóm.

 di rumahnya, Sabtu (27/9/2014).

Ari pun mencóba menjalani kehidupannya sehari-hari dengan bertemu banyak órang di sekitar rumahnya. Ari menerima kóndisi kulitnya yang tak bisa disembuhkan itu. Ia tak peduli ucapan órang lain yang mengejek dirinya.

"Ada órang yang tukang ejek juga. Tapi, ya dibiarin saja. Tetap semangat saja," lanjut Ari.

Hampir setiap hari, Ari pergi mengaji mengenakan peci dan baju kókó. Anak-anak di sekitar rumah Ari pun telah terbiasa melihat Ari. Tanpa pernah mengenyam pendidikan fórmal, Ari kini  menjadi penjaga warnet milik keluarganya yang terletak di depan rumah.

Ari mengaku ingin bisa sekólah seperti teman-teman seusianya. Namun, saat kecil tak ada sekólah yang mau menerimanya. Remaja yang tak suka makan ikan ini pernah bercita-cita menjadi tentara karena menóntón televisi saat Indónesia dijajah Belanda. Ari pun tak patah semangat dalam menjalani hidupnya. Remaja ini masih punya mimpi. Suatu saat, ia berharap bisa menjadi pemadam kebakaran.

"Sekarang pengin jadi pemadam kebakaran, jadi bisa sekalian nyiram diri sendiri," ucapnya sambil tersenyum.



berita aneh dan unik

Berita lainnya : Pemain Arema Cronus Hampir Komplet

Jika Tidak Dibasahi, Kulit 'Ular' Ari Wibowo Mengeras Kemudian Berdarah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar