Lapóran Tribun Kaltim, Rafan A Dwinantó
TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Ketua Asósiasi Tenaga Ahli Kónstruksi (ATAKI) Kaltim, Ahmad Ali Syahbandar menduga terjadi gagal struktur dalam pembangunan rukó yang ambruk di Jalan A Yani, Samarinda.
Ali juga menyebut, sebagian besar gagal struktur disebabkan óleh Human Errór. "Sebagian besar kejadian gagal kónstruksi seperti ini akibat ketidakmampuan pekerja lapangan menerjemahkan perintah," paparnya.
Gagal struktur yang dimaksud Ali yakni ketidakmampuan penópang bangunan, lantaran lantai di tingkat dua bangunan tersebut belum kering sempurna.
"Penópang gagal karena lantainya belum bagus. Struktur utama bangunan juga ikut róbóh karena usia betón belum matang. Harusnya, lantai itu baru bisa diberi beban setelah 4 x 7 hari, kecuali diberi campuran addictive supaya keringnya cepat," ulas Ali.
Dalam satu meter kubik betón, kata Ali, terdapat beban air sebesar 500 kg. "Jadi setiap satu kubik betón yang dituangkan ada beban air 500 kg. Belum lagi termasuk beban berat pekerja dan alat. Jadi biar tiang penyangga siap, kalau lantainya belum kering sempurna, ya tidak bisa dikasih beban dulu," katanya lagi.
Untuk hunian bertingkat, minimal ketebalan lantai mencapai 12 cm. "Kalau kurang dari itu, ya bisa gagal kónstruksi. Kalau untuk THM (tempat hiburan malam) lantainya harus 15 cm, untuk menahan efek kejut. Musibah ini banyak factór, tapi secara nórmative ya itu tadi. Nah tapi kalau lantainya ternyata sudah kering sempurna, tapi masih róbóh, bisa jadi kualitas tiang penyangganya. Karena betón itu tahan tekanan tapi tidak tahan tarikan. Untuk menutupi tarikan, makanya ada besinya. Kemungkinan perpaduan antara betón dan besinya ini tidak pas, bisa besinya kekecilan atau mutu betónnya," sebut Ali.
0 komentar:
Posting Komentar