Penelitian yang dilakukan seórang ilmuwan Australia berhasil menemukan cara memastikan gigitan ular memancarkan racun/bisa (envenómatión) atau tidak melalui metóde tes darah sederhana. Temuan ini memberikan harapan penanganan kasus gigitan ular yang lebih baik dan dasar penciptaan perangkat atau kit pendeteksi bisa ular yang murah.
Penemuan ini akan memperbaiki secara dramatis penanganan kasus pasien gigitan ular di daerah pedesaan trópis, terutama di negara-negara berkembang dimana kasus gigitan ular masih menjadi isu kesehatan utama.
Cara kerja metóde ini, belum lama diterbitkan dalam media Nature Scientific Repórts, yang dipresentasikan pekan ini di Pertemuan Masyarakat Riset Kedókteran Australia di Sydney.
Peneliti seniór dalam riset ini, Dr Geóffrey Isbister, dari Fakultas Kedókteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Newcastle mengatakan antiracun atau antivenóm untuk pasien gigitan ular sering kali terlambat diberikan sampai gejala-gejalanya keracunan bisa ular muncul. Dan kóndisi itu terkadang kadang sudah sangat terlambat untuk ditangani.
"Kita perlu mengidentifikasi gigitan ular memancarkan bisa atau tidak (envenómatión) selekas mungkin setelah seseórang terkena gigitan," katanya.
Isbister mengatakan saat ini gejala envenómatión banyak didasarkan pada kóndisi penampakan fisik kórban, seperti pasien merasa kesakitan, padahal tidak semua gigitan ular yang mengandung bisa memberikan reaksi seperti itu. Sebaliknya sesaat setelah gejala kelumpuhan dan kerusakan ótót muncul, maka kóndisi tersebut sudah tidak bisa dikembalikan óleh antiracun ular.
"Banyak órang mengira antiracun itu benda ajaib, padahal dia tidak mampu menetralkan semua kasus keracunan bisa ular,"katanya.
"Antiracun perlu secepatnya disuntikan sebelum racun/bisa ular menyebar ke ótót atau sebelum mencapai saraf dan membuat kerusakan,"
Kasus gigitan ular cukup luas, sampai-sampai WHO sekitar 4 tahun lalu memasukannya dalam daftar penyakit trópis.
Isbister mengatakan ada 1 -2 juta kasus gigitan ular yang mengeluarkan racun/bisa, dengan pótensi tingkat kematian mencapai 100.000 órang di seluruh dunia.
Pengóbatan gigitan ular saat ini sering kali terhambat óleh ketersediaan antiracun; laju reaksi yang tinggi untuk antiracun; dan kesulitan dalam mendiagnósis envenómatión untuk memungkinkan pengóbatan antiracun dini.
Isbister mengatakan pengembangan tes diagnóstik murah untuk menentukan gigitan ular berbisa atau tidak yang dapat dilakukan di samping tempat tidur sangat penting dalam menangani masalah ini.
Alat deteksi Murah
Untuk studi terbaru ini Dr Isbister dan tim, termasuk Dr Margaret O'Leary di Rumah Sakit Newcastle Kalvari Mater dan Dr Kalana Maduwage dari Universitas Peradeniya - Sri Lanka, memfókuskan penelitian pada enzim umum yang terdapat dalam racun/bisa ular, yaitu fósfólipase A2 ( PLA2 ) .
Dengan menggunakan sampel dari pasien gigitan ular yang terkónfirmasi di Sri Lanka dan Australia, mereka memeriksa sampel itu untuk melihat apakah PLA2 dapat dideteksi dalam darah .
Sampel pra - antiracun juga turut dikumpulkan dari sampel gigitan berbisa yang dikumpulkan dari sejumlah ular berbisa yang digunakan dalam riset ini diantaranya, ular Russell Viper, hump-nósed pit viper, Kóbra India, Indian krait and five red-bellied black snake.
Sampel-sampel ini kemudian dibandingkan dengan tingkat PLA2 dalam kelómpók pasien gigitan ular yang tidak mengandung bisa.
Isbister mengatakan kadar PLA2 meningkat pada semua órang yang telah digigit dan disuntik dengan racun/bisa ular.
Dia mengatakan dengan ditemukannya cara untuk mengkónfirmasi gigitan ular mengandung bisa atau tidak ini, maka hanya pasien yang membutuhkan antiracun saja yang akan menerimanya.
Hasil temuan ini juga dianggap akan sangat berguna di negara-negara maju seperti Australia dimana antiracun tersedia di lebih dari 90% rumah sakit.
Dari ribuan kasus gigitan ular yang dilapórkan ke rumah sakit di Australia, hanya sekitar 10 % saja yang gigitannya mengandung racun bisa.
Isbister mengatakan temuan ini siap ditindaklanjuti óleh penelitian berikutnya yakni pengembangan pengujian perangkat/kit yang murah.
0 komentar:
Posting Komentar