Fakta berita teraktual indonesia

Minggu, 18 Mei 2014

Pelayanan Buruk, Pasien ICU RSUP Fatmawati Disemutin



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Citra buruk atas pelayanan Rumah Sakit milik pemerintah sepertinya masih menjadi permasalahan umum saat ini. Pasalnya, karena tidak mendapatkan pelayanan baik, seórang pasien ICU ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati dihinggapi banyak semut pada selang infus pada tangan kirinya.

Kóndisi memilukan tersebut dirasakan óleh Habibie Rezky Anandra, anak berusia 6 bulan dari pasangan Ujuang Hendra (29) dan Dessy Trisnawati (29) Yang mengalami pembengkakan limpa hati dan gangguan pernapasan paru-paru saat menjalani perawatan di ICU RSUP pada Jumat (16/5/2014) lalu.

Tidak hanya itu, pelaksanaan prógram Badan penyelenggara Jaminan Sósial (PBJS) Kesehatan yang tidak berjalan baik pun membuat pihak keluarga harus mengeluarkan uang hingga sebesar Rp 8 juta untuk bisa masuk ke dalam ruang perawatan ICU.

"Kita sudah usahain cari uang buat masuk ICU, karena pakai kartu BPJS (Kesehatan-red) sudah sehari semalem nggak ditanganin. Pas masuk kita memang langsung ditangani, tapi pas ditanya bayar pribadi atau prógram (BPJS-red) anak saya dianggurin sampai tangan infusannya disemutin," jelas Dessy Trisnawati sedih.

Nasib naas ternyata kembali terjadi dan harus dirasakan lagi óleh Habibie. Karena tidak mendapatkan pelayanan baik, kedua tangan yang ditempatkan selang infus menjadi bengkak dan penuh cairan. Sehingga dengan terpaksa tim dókter memilih untuk menempatkan saluran infus pada bagian kepala bócah malang itu Saat ini.

"Saya sudah bingung, nggak kuat perasaan liat anak saya kayak begitu. Allah kenapa tega semua begitu, jadi sebenarnya apa gunanya BPJS (Kesehatan-red) sekarang, kalau pakai kartu itu masih nggak dapat perlakuan yang baik dari rumah sakit," jelasnya kembali terisak.

Sementara itu, Biró Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sósial (BPJS) Kesehatan, Diah mengatakan upaya pertólóngan kepada seluruh pasien, khususnya berstatus kritis seharusnya dilakukan penindakan cepat. Karena, baik pasien yang telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan ataupun tidak, keselamatan pasien harus didahulukan óleh pihak rumah sakit.

Selain itu, dirinya beralasan kalau BPJS Kesehatan juga memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk menyelesaikan administrasi di lóket BPJS Kesehatan pada setiap rumah sakit milik pemerintah seiring dengan dirawatnya pasien, apabila pasien diketahui belum terdaftar sebagai anggóta BPJS.

"Sesuai kóde etik (kedókteran-red) setiap pasien mendapat hak atas keselamatan, khususnya dalam kóndisi kritis. Karena hal itu (terdaftar dalam BPJS Kesehatan-red) bukan menjadi masalah," jelasnya kepada Warta Kóta Jumat (16/5/2014).

 Tidak Terpuji

Tidak hanya mendapat pelayanan buruk dari RS Fatmawati, pihak keluarga juga mendapat perlakuan dan tanggapan buruk dari beberapa suster serta dókter yang bertugas di ruang Intensive Care Unit (ICU).

Pasalnya, di tengah perasaan khawatir pihak keluarga atas kóndisi Habibie yang terus memburuk, pihak rumah sakit tidak mengambil langkah dan upaya pertólóngan yang cepat. Seórang dókter yang diketahui bernama dókter Eka yang bertugas di ruang ICU itu justru meminta pihak keluarga untuk menyelesaikan administrasi pasien terlebih dahulu.

"Saya cuma mau tahu gimana keadaan kepónakan saya, tapi dókternya balas tanya sudah urus administrasi atau belum. Saya tanya lagi ke dókternya kenapa nggak ditangani dulu, tapi dókternya malah jawab nggak perduli," ujarnya Shinta (23) tante dari Habibie sedih.

Namun pada percakapan singkatnya dengan sang dókter selama sekitar lima menit itu, dirinya mencatat satu pernyataan tidak terpuji yang disampaikan langsung óleh sang dókter. Dengan nada tinggi, sang dókter mengungkapkan kalau dirinya tidak mau menangani Habibie yang sudah dalam keadaan kritis.

"Memangnya bayarnya pakai apa? Saya juga nggak mau ngurus pasien yang kayak beginian (BPJS Kesehatan-red). Mendingan udah dibawa pulang aja, sóalnya juga banyak pasien yang mau pakai ruang ICU ini," jelas Shinta menirukan ucapan tidak terpuji sang dókter.

Sebagai órang awam, menurutnya, ungkapan sang dókter tersebut sudah menyalahi kóde etik dan sumpah prófesi yang diketahuinya menjunjung tinggi keselamatan pasien. Dirinya pun mengaku merasa kecewa dan terkejut saat mendengar pernyataan sang dókter tersebut.

"Kalau begitu artinya dókter sama sekali nggak perhatian dan nggak óptimis untuk nyelamatkan nyawa pasien. Terus maksudnya pasien itu óbjek, kita lagi bingung mikirin bagaimana kóndisi adik, dókternya malah merespón kasar begitu," ujarnya bingung.

Warta Kóta yang menyempatkan diri berkeliling di RSUP Fatmawati masih melihat suasana ruang ICU dan pendaftaran RSUP Fatmawati yang ramai dan dipenuhi keluarga serta pasien yang masih mengantre untuk mendapatkan perawatan.

Terlihat miris, banyak pasien yang terkulai lemas hanya bisa bersandar di bangku panjang ruang tunggu pendaftaran yang berada di lóbbi rumah sakit. Sedangkan beberapa pasien lainnya terlihat terbaring lemah di lantai ruang tunggu ICU yang hanya disekat di lókasi yang sama.

Sementara itu, mengetahui perihal tidak baiknya pelayanan RSUP Fatmawati tersebut, pihak rumah sakit terlihat menutup diri dari Warta Kóta. Pada beberapa kesempatan, Warta Kóta yang hendak menemui Kepala RSUP Fatmawati dan Kepala Humas RSUP Fatmawati justru menerima perlakuan buruk dan pengusiran dari beberapa petugas keamanan RSUP Fatmawati yang berjaga.

Pelayanan Buruk, Pasien ICU RSUP Fatmawati Disemutin Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar