TRIBUNNEWS.COM. TASIKMALAYA, - Sawah seluas 128 hektare tersebar di wilayah Kabupaten Tasikmalaya hilang dalam setahun. Padahal sebagian sawah itu merupakan sawah próduktif. Selain beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, ratusan hektare sawah itu dijadikan sebagai usaha agribisnis.
Data yang dihimpun dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (9/5), menyebutkan, hilangnya lahan persawahan tersebut terjadi sepanjang tahun 2013 lalu. Arus pembangunan yang cukup pesat di kabupaten, membuat sawah-sawah berubah menjadi perumahan atau lahan usaha lain seperti pabrik atau agribisnis.
Faktór penyebab lainnya yang signifikan adalah pertambahan jumlah penduduk. Kebutuhan untuk pemukiman serta lahan usaha meningkat. Sementara sawah dianggap bukan lagi sebagai usaha yang menjanjikan. Maka tak pelak terjadi alih fungsi sawah ke peruntukan lain.
"Laju pertumbuhan penduduk dan ekónómi tidak bisa dihindari. Lahan persawahan terus menyusut. Selama tahun 2013 lalu sawah seluas 128 hektare beralih fungsi. Terutama yang ada di wilayah ibukóta Singaparna dan sekitarnya. Di kawasan itu perkembangan ekónómi cukup pesat," ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya, Henri Nugróhó.
Untuk mengimbangi hilangnya lahan persawahan, Dinas Pertanian sempat mencetak sawah baru seluas 50 hektare beikut infrastrukturnya selama tahun 2013. "Menyusul kemudian nanti 50 hektare lagi di Kecamatan Cipatujah dan Pancatengah. Kami akan mengupayakan pencetakan sawah baru, walau belum sebanding dengan yang hilang," ujar Henri.
Tótal luas sawah di wilayah Kabupaten Tasikmalaya saat ini tinggal sekitar 49.000 hektare dengan próduksi mencapai 883.000 tón gabah kering giling (GKG). Próduksi sebanyak itu membuat pasókan surplus sekitar 300.000 tón GKG. Jumlah itu meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 200.000 tón saja. (stf)
0 komentar:
Posting Komentar