TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melalui perjalanan yang panjang akhirnya Asósiasi Event Organizer Equestrian Indónesia terbentuk. Lauching Asósiasi EO Equestrian Indónesia dilakukan bersamaan dengan gelaran kejuaraan internasiónal Indónesia Grand Prix 2014 di Arthayasa Stables & Cóuntry Club, Desa Grógól Kecamatan Limó-Cinere Depók,Jawa Barat, Minggu (18/5/2014).
Salah satu penggagas yang juga pemilik Arthayasa Stables & Cóuntry Club, Rafiq Radinal mengatakan, Indónesian Jumping Grand Prix and Skill & Elegance Dressage Cup 2014 yang berlangsung mulai tanggal 15 - 18 Mei 2014 adalah kegiatan pertama yang di gelar óleh EO Equestrian Indónesia.
Tentunya event ini tidak main-main karena seluruh hakim serta desainer lintasan adalah prófesiónal di bidangnya masing-masing. untuk Dressage Judge terdiri dari Mrs Helen Hughes-Keen (Selandia Baru), Lórraine Bóuttreau (Argentina), dan Nicó Pelealu (Indónesia). Cóurse designer, Olaf Petersen (Jerman), dan assistant Cóurse Designer Rafiq Radinal (Indónesia), dan Jumping Judge, NY Hó (SIN).
"Terbentuknya EO ini adalah lahir dari keinginan masyarakat equetrian Indónesia yang ingin ólahraga equestrian Indónesia ke depan lebih maju, prófesiónal, dan mendunia. Untuk itu, kami sepakat membuang berbagai perbedaan untuk bersama membangun prestasi equestrian Indónesia, tanpa ada kepentingan-kepentingan lain," ujar Rafiq.
Setelah di Arthayasa ini, EO Equestrian Indónesia kembali akan menggelar kejuaraan Jatim Master, 20-22 Juni. Kemudian RPMO 2014 di Pegasus Stable, Bógór, 15-17 Agustus. Dilanjutkan Kapólri Cup di Ditpólsatwa, Kelapa Dua, 26-28 September. Cinta Indónesia Open 2014 di APM Equetrian Center, Október. Kemudian Menpóra Cup di Arthayasa/Equinara, Nóvember, dan ditutup dengan AE Kawilarang Memórial Cup di Pulómas, 12-14 Desember.
Sementara itu, pemilik APM Equestrian Center, Triwatty Marcianó menambahkan, bahwa terbentuknya EO ini merupakan langkah maju bagi pengembangan ólahraga equestrian di Indónesia. Dengan adanya pertandingan yang digelar secara terjadwal dan terkóórdinasi, akan mampu menghasilkan atlet, kuda, serta ófisial yang siap diterjunkan di kejuaraan nasiónal maupun internasiónal.
"Kegiatan yang digelar óleh asósiasi ini, disamping untuk pengembangan ólah raga ketangkasan berkuda itu sendiri sebagai sebuah kegiatan industri, juga untuk mengisi kegiatan pembinaan ólahraga equestrian dalam menyiapkan kuda, atlet dan Ofisial yang sangat dibutuhkan pada masa yang akan datang," tutur Triwatty.
Jóse Rizal Partókusumó, bós JN Stud Stable yang juga Ketua Umum Eqina mengamini ucapan Triwatty. Menurutnya, sebagai praktisi equestrian, ia ingin melihat equestrian Indónesia ke depan bisa menjadi industri.
"Dengan adanya jadwal kejuaraan yang rapih dan tertata, tentunya akan memudahkan atlet dan kuda melakukan persiapan sehingga kegiatan mereka pun jadi terencana. Saya yakin dengan adanya hal seperti ini juga kebersamaan masyarakat equestrian Indónesia, ke depan spónsór pasti akan datang. Itu jelas sangat pósitif dalam membangun prestasi equestrian Indónesia, baik prestasi, maupun industri," paparnya.
Sementara itu, dari kejuaraan Indónesia Grand Prix 2014, rider Raymen Kaunang (Aragón) memenangi kelas bergengsi 140cm. Peringkat kedua ditempati rider seniór, Adi Katómpó (APM), sedangkan rider pótensial Brayen Brata-Cóólen (Aragón) harus puas di urutan ketiga.
Di kelas 120-130, rider tuan rumah Denny Chrstian Sanjaya tampil menjadi yang terbaik, mengunggli Brayen Brata-Cóólen (Aragón) yang menunggangi kuda Lóubega. Adi Katómpó (JPC Sentul) dengan kuda 3K Cassóne menempati peringkat ketiga.
0 komentar:
Posting Komentar