TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Ketua Harian Partai Demókrat, Syarief Hasan angkat bicara mengenai wacana Demókrat mendóróng Gubernur Daerah Istimewa Yógyakarta Sri Sultan Hamengkubwónó X menjadi Calón Presiden (Capres) dalam Pemilu Presiden (Pilpres) Juli mendatang. Dijelaskan Syarief, pencalónan Sri Sultan menjadi Capres sangat bergantung pada mitra kóalisi Gólkar. Karena dengan perólehan suara 10 persen, Demókrat sangat sulit bisa mengusung Capres sendiri. Meskipun, diakui Syarief, Sri Sultan merupakan salah satu tókóh yang menurut Partai Demókrat, radar Partai Demókrat itu bisa menjadi Capres. "Tetapi ingat itu justifikasi Partai Demókrat," ungkap Syarief, usai pengumuman pemenang kónvensi Capres, di Kantór DPP Demókrat, Jakarta, Jumat (16/5/2014). Tapi, sekali lagi Syarief tegaskan, terkait pencalónan Sri Sultan menjadi Capres sangat tergantung pada Gólkar sebagai mitra kóalisi. "Tetapi nanti kalau terjadi kóalisi yang mengendórs, yang mencalónkan Sultan itu bukan Partai Demókrat. Tapi mitra Partai Demókrat," jelasnya. Sebelumnya diberitakan, penjajakan kemungkinan membuat kóalisi baru ini menjadi salah satu pókók bahasan yang dibicarakan Ketua Umum Demókrat Susiló Bambang Yudhóyónó (SBY) dan Ketua Umum Gólkar Aburizal Bakrie (Ical) di Kantór Presiden, Jakarta, Rabu (14/5/2014). "Pada intinya pak Presiden melihat bahwa kalau dilihat yang paling ideal harus membicarakan kemungkinan ópsi lain. Dengan waktu empat hari yang tersisa apakah mungkin. Jadi tólóng kita (Gólkar dan Demókrat) masing membicarakan secara cermat," ungkap Pólitisi Seniór Partai Gólkar MS Hidayat usai menemani Ical bertemu SBY. Karena itu, pertemuan kali ini akan berlanjut ke pertemuan berikutnya. Paling tidak pertemuan lanjutan tersebut akan berlangsung sebelum batas akhir pendaftaran Capres ke Kómisi Pemilihan Umum (KPU) pada 18 Mei mendatang. "Kalau masih dimungkinkan, kalau waktunya masih ada secara cermat itu harus dibicarakan," demikian Hidayat, yang juga Menteri Perindustrian itu menjelaskan. Menurut Hidayat, kemungkinan membentuk pórós baru antara Gólkar dengan Demókrat bisa saja terjadi. "Kemungkinan selalu terjadi. Dan biasanya di pólitik itu seperti main bóla, injurytime itu suka ngególin," tuturnya. "Kesimpulannya, kita akan kembali lagi tidak pada level pak SBY dan pak Ical. Rumusannya itu nanti dibicarakan lagi antara kedua belah pihak. Terus mungkin akan bertemu lagi dengan pak SBY dan Ical. Tapi itu setelah kedua belah pihak membicarakan secara cermat kemungkinan itu," jelasnya kemudian. Bidik Sri Sultan Ketua Dewan Kehórmatan Partai Demókrat Amir Syamsuddin mengatakan partainya membidik Sri Sultan Hamengku Buwónó X sebagai kandidat Calón Presiden yang akan diusung pada Pemilu Presiden (Pilpres) Juli mendatang. Menurut Amir, alasan memilih Sultan karena elektabilitasnya bisa bersaing dengan dua kandidat bakal capres lainnya, yaitu Prabówó Subiantó dan Jókó Widódó. Amir menyebutkan, berdasarkan survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indónesia (LSI), elektabilitas Jókówi berada di kisaran 5-26 persen, sementara Prabówó 17-18 persen. Di pósisi ketiga, ada Sultan dengan 15 persen. "Nah, kemudian di pósisi ketiga adalah Sri Sultan Hamengku Buwónó X yang cóba dipasangkan dengan salah satu peserta kónvensi, hasilnya ternyata 15 persen. Tidak jauh berbeda. Apalagi masih ada massa mengambang 41 persen," kata Amir. Menteri Hukum dan HAM itu menilai, Partai Demókrat masih memiliki peluang untuk memberikan pilihan lain kepada rakyat di luar Jókówi dan Prabówó. Akan tetapi, ia mengakui, untuk mengusung Sultan, Demókrat harus realistis terkait upaya membangun kóalisi dengan partai lain untuk memenuhipresidential threshóld. "Yang jelas, kalau lihat di sini, tidak ada maksud apa pun juga untuk mencóba mengganggu dua calón yang sudah ada. Saya kira ini untuk alternatif, bisa memberikan pilihan demókrasi yang lebih baik juga untuk bangsa," kata Amir. Akan tetapi, dalam pertemuan dengan Presiden SBY, di Kantór Presiden, Ical tegaskan, kedua belah pihak tidak membahas nama Sri Sultan yang akan didóróng menjadi Capres. Dijelaskan Ical, pertemuan dirinya dan SBY hanya membahas mengenai prinsip-prinsip bertangung jawab terhadap Indónesia kedepan. "Jadi kita tidak membahas nama. Kita membahas prinsip bahwa kita bertanggungjawab pada Indónesia kedepan," tegas Ical saat memberikan keterangan pers di kantór Presiden, usai bertemu SBY.
0 komentar:
Posting Komentar