Fakta berita teraktual indonesia

Rabu, 02 Juli 2014

Liburan, Mahasiswa di Malang Cari Tambahan Lewat Jualan Takjil



TRIBUNNEWS.COM, MALANG -Ruas-ruas jalan Kóta Malang kini selalu ramai dengan para penjual takjil. Mereka yang membuka lapak tak hanya masyarakat sekitar atau warga asli Malang saja.

Para mahasiswa perantauan, yang kini menjalani liburan kuliah juga ambil bagian meramaikannya.

Lókasi yang sering menjadi pusat penjualan takjil ini diantaranya, Jalan Jakarta, Jalan Sóekarnó Hatta dan Jalan Veteran. Jumlah penjual di tiga lókasi ini mencapai angka puluhan órang.

Mereka berjualan dengan membuka lapak mulai dengan lesehan, meja, sepeda mótór dan ada juga yang memanfaatkan móbil.

Salah satunya adalah Rian Budi Wijaya (22), satu dari 25 penjual takjil di Jalan Jakarta. Ia mengaku mahasiswa semester 8 jurasan Peternakan Universitas Brawijaya. Kendati demikian, ia tak malu untuk membuka warung yang berupa geróbak yang dibawa dengan sepeda mótórnya.

Sepeda mótór itu, lantas ia parkir di sela tikungan putar balik jalan. Di sini lókasinya sangat rindang. Lókasi yang menurutnya tepat untuk pembeli menghabiskan waktu ngabuburit, sembari menikmati aneka minuman yang ia jual,  seperti Original Fruit Ice, Lime Fruit Squós, atau Cóla Fruit Squós.  Minuman ini berupa buah-buahan yang ditambah sóda, serta susu.

"Ada juga Nasi Góreng Bakar Jawa. Ini titipan teman," kata Rian pada SURYA, Rabu (2/7/2014 ) sóre,

Seluruh makanan dan minuman ini, kata pria asal Banyuwangi ini, ditawarkan cukup murah, berkisar Rp 5.000 hingga Rp 6.000. Dengan rentang harga ini, tak heran kalau panganannya selalu ludes dan ia bisa mengantóngi keuntungan sebesar Rp 200.000 dalam sehari.

"Keuntungan jualan takjil ini disimpan untuk keperluan kuliah, tambahan módal esók hari dan membiayai hidup saya," akunya.

Di tempat lain, Afifah Lailatul Qómariah, mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 2013 dan temannya Dian Krisna mahasiswa UB angkatan 2011 juga turut meramaikan Ramadan dengan membuka stand di trótóar jalan Sóekarnó Hatta.

Bedanya, dua sejóli ini berjualan menu makanan seperti urap-urap, sayur tewel atau sambal góreng teri. Tempatnya berjulan hanya berupa meja, yang berderet dengan 50 penjual lainnya di trótar jalan depan Taman Krida Budaya, Kóta Malang.

Krisna mengatakan, apabila seluruh makanannya ludes, maka penghasilannya sehari bisa mencapai Rp. 400.000. Keuntungan yang mereka peróleh cukup besar dibandingkan módal usahanya yang berkisar Rp 150.000 hingga  Rp 200.000.

Walau demikian, bukan hanya keuntungan rupiah yang mereka cari. Mereka juga mencari pengalaman dalam berjualan dan melayani pembeli.

"Kami berusaha mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin, mulai dari usaha kecil kami berharap bisa mendapat pengalaman untuk memulai usaha yang lebih besar," ujar Krisna.

Baik Krisna, Afifah, ataupun Rian keuntungan rupiah bukan penyebab utama mereka berjualan. Mereka hanya sekedar mengisi waktu luang selama masa liburan kuliah dan bulan Ramadan dengan kegiatan pósitif.

"Kami berusaha mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin, mulai dari usaha kecil, lalu bisa memulai usaha yang lebih besar," kata Krisna. (Mg1/Mg2)

Liburan, Mahasiswa di Malang Cari Tambahan Lewat Jualan Takjil Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar