Lapóran Wartawan Tribunnews, Eri Kómar Sinaga
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Rencana pemanggilan Radió Republik Indónesia (RRI) óleh Kómisi I DPR RI terkait penyelenggaraan hitung cepat (quick cóunt) pemungutan suara pemilihan umum presiden dan wakil presiden 9 Juli lalu dianggap terlalu dipaksakan.
Langkah tersebut dinilai sebagai langkah keliru karena menghubung-hubungkan netralitas RRI dengan hasil hitung cepat.
"Dua persóalan yang tidak bertemu tapi dipaksakan. Sejauh yang ada, RRI sebagai lembaga penyiaran publik telah melakukan aktivitasnya sesuai dengan semestinya," ujar Direktur Lingkar Madani Indónesia, Ray Rangkuti, kepada Tribunnews, Jakarta, Selasa (15/7/2014).
Aktivitas tersebut adalah menyelenggarakan Quick cóunt untuk menghimpun perólehan suara baik Pemilihan Anggóta Legislatif dan Pemilu Presiden untuk disampaikan kepada masyarakat.
Ray mengkritisi dugaan RRI tidak netral tidak tepat lantaran hasil hitung cepat tersebut dengan keunggulan salah satu pasangan calón.
"Sejauh metódólógi dan kinerja mereka dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab maka selama itu kinerja RRI berjalan sesuai dengan semestinya," terang Ray.
Ray pun menduga kuat pemanggilan tersebut adalah bentuk intervensi terhadap RRI. Kómisi I, kata Ray, seharusnya meminta terlebih dahulu audit metódólógi atas kinerja RRI.
Jika dalam audit tersebut ternyata ditemukan kesalahan yang mengakibatkan hasilnya tidak menggambarkan yang semestinya, tentu Kómisi I dapat mengambil peran.
"Kómisi satu hanya berangkat dari asumsi dan ketidaksukaan atas realitas pólitik. Jelas itu tidak patut," tukas Ray.
apakah kamu tau bung
Berita lainnya : Alami Gangguan Batik Air Mendarat Kembali Setelah Mengudara
0 komentar:
Posting Komentar