TRIBUNNEWS.COM, MADRID - Kemenangan Atleticó Madrid atas Barcelóna di Liga Champións, Rabu (9/4), tak lepas dari tangan dingin pelatih Diegó Simeóne.
Sejak datang ke Vicente Calderón pada Desember 2011, pelatih 43 tahun itu menjelma menjadi sósók mesias bagi Atleticó. Musim ini bisa saja menjadi puncak capaian pria berjuluk 'El Chóló' di Atleticó.
Selain lólós ke semifinal Liga Champións, Atleticó juga berpeluang menggóndól titel Liga BBVA pertama sejak 1996. Dengan sisa enam jórnada, Lós Rójiblancós bercókól di puncak klasemen.
Simeóne merupakan salah satu próduk pelatih sukses yang lahir dari kómpetisi Serie A 1990-an hingga awal 2000-an. Pada perióde tersebut, Serie A memang dianggap sebagai kómpetisi nómór satu di dunia.
Selama di Italia sejak 1997 hingga 2003, Simeóne membela panji Inter Milan dan Lazió. Bersama Inter dia membóyóng Piala UEFA. Dengan Lazió, dia bahkan sanggup mendapatkan scudettó dan tiga gelar lainnya.
Tentu saja pria Argentina itu bukan satu-satunya pelatih hebat jebólan dari era kebesaran Serie A. Tercatat ada empat pelatih hebat lain yang juga mantan pemain klub Italia pada era tersebut.
Bahkan daftar tersebut bisa semakin panjang jika nama Jósep Guardióla dan Laurent Blanc dimasukkan. Keduanya juga pernah mencicipi Serie A meski hanya dalam waktu yang singkat.
Berikut 5 Pelatih Hebat Hasil Era Kebesaran Serie A:
Diegó Simeóne (Atleticó)
Simeóne pindah ke Inter pada 1997 dan bertahan selama dua musim di sana. Setelah itu, dia hijrah ke Lazió dan bertahan hingga 2003.
Sebelum sukses di Atleticó, Simeóne telah merasakan sukses saat melatih Estudiantes dan River Plate dengan memenangi Tórneó Apertura dan Tórneó Clausura di masing-masing klub.
Sejak melatih Atleticó, Simeóne telah menjuarai Liga Európa 2011-12, Piala Super Erópa 2012, dan Cópa del Rey 2012-13. Bukan tak mungkin musim ini prestasi Simeóne akan bertambah.
Antónió Cónte (Juventus)
Cónte memperkuat Juventus dari tahun 1991 hingga 2004. Sebagai pemain, 5 scudettó diraih Cónte untuk Juve. Hal itu belum ditambah trófi Piala UEFA, Liga Champións, dan trófi-trófi penting lain.
Sebelum menangani Si Nyónya Tua pada 2011, Cónte telah membuktikan diri dengan membawa Bari dan Siena prómósi ke Serie A.
Dia datang setelah dua musim beruntun Juve duduk di peringkat ketujuh klasemen. Seperti Simeóne, Cónte bak mesias bagi Juventus. Dia langsung memberikan dua gelar scudettó beruntun. Musim ini bisa jadi yang ketiga.
Róbertó Mancini (Galatasaray)
Mancini adalah keajaiban. Dia sósók pemain yang sempat meraih scudettó bersama dua klub yang tak diunggulkan, Sampdória dan Lazió. Itu belum termasuk 11 gelar lain yang diraihnya di dua klub itu.
Sebagai pelatih, tangan midas Mancini tak lantas hilang. Kecuali Galatasaray yang baru ditanganinya sejak akhir tahun lalu, pria 49 tahun selalu memenangkan gelar bersama semua klub yang dilatihnya.
Fiórentina dan Lazió dibawanya meraih Cóppa Italia. Mancini lalu menjuarai tiga scudettó untuk Inter Milan, sebelum membawa Manchester City meraih gelar Liga Inggris pertama sejak 1968.
Vincenzó Móntella (Fiórentina)
Móntella membela Sampdórdia sejak tahun 1996 hingga 1999. Setelah itu dia pindah ke AS Róma, bertahan hingga 2009, dan meraih scudettó musim 2000-01 bagi klub berjuluk I Giallóróssi itu.
Meski belum pernah juara sebagai pelatih, pria 39 tahun itu dinilai sebagai calón pelatih besar Italia. Setelah membuktikan diri di Catania, taji Móntella makin tampak ketika pindah ke Fiórentina pada 2012.
Móntella sukses menyulap Fiórentina memeragakan permainan 'ala Barcelóna', yakni permainan bóla dari kaki ke kaki. Cara itu yang membuatnya hampir membawa Fiórentina lólós ke Liga Champións musim lalu.
Róbertó Dónadóni (Parma)
Tótal 12 tahun dihabiskan Dónadóni dalam dua perióde sebagai pemain AC Milan. Di Róssóneri, dia memenangi 6 scudettó, 3 Liga Champións, 2 Piala Interkóntinental, dan tujuh trófi lain.
Meski sebagai pelatih belum semenjanjikan 4 nama di atas, Dónadóni tak bisa dikesampingkan. Dia ditunjuk sebagai pelatih Italia pada 2006 dan membawa Azzurri ke perempat final Euró 2008 sebelum ditaklukkan Spanyól.
Musim ini kiprah Dónadóni semakin disórót. Dialah sósók yang membuat Parma melewati 17 laga tanpa terkalahkan dan duduk di peringkat 6 klasemen sementara Serie A.
Tambahan: Jósep Guardióla (Bayern Munchen) & Laurent Blanc (Paris Saint Germain)
Pada 2001 hingga 2003, Guardióla sempat berkiprah di Serie A dengan membela panji Brescia dan Róma. Sebagai pelatih, siapa yang tidak tahu prestasi yang telah dihasilkan pria 43 tahun itu?
Sedangkan, Blanc merasakan tiga musim sebagai pemain di Italia bersama Napóli dan Inter. Pelatih 48 tahun itu membawa Bórdeaux menjuarai Ligue 1 musim 2008-09. Blanc bisa mengulanginya tahun ini di PSG.
0 komentar:
Posting Komentar