TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asrórun Ni'am Shóleh selaku Ketua Kómisi Pelindungan Anak Indónesia (KPAI), turut prihatin terhadap kekerasan anak, khususnya pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Ia memaparkan, perlunya dóróngan khusus terhadap pendidikan ramah anak.
"Butuh langkah-langkah prógresif dari penanggung jawab pendidikan nasiónal yaitu Kemendikbud. Hal tersebut untuk menjamin bahwa lingkungan pendidikan itu adalah lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak," ujarnya saat diwawancarai Warta Kóta, Jumat (25/4/2014), di Gedung KPAI, lantai 3, Menteng, Jakarta Pusat.
Ia juga mengatakan, tidak hanya untuk kepentingan próses transfer óf knówledge, tetapi juga tata nilai pergaulan aman dan nyaman ramah bagi anak. "Bentuk dóróngan perbaikan regulasi dan juga implentasi pendidikan ramah anak KPAI. Mendóróngkan kónsep pendidikan ramah anak dan salah satu bentunknya adalah sekólah ramah anak," tuturnya.
"Dimana ada mekanisme internal disekólah untuk memastikan próses belajar mengajar itu benar-benar mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak," ungkapnya.
Ia pun menambahkan usai terselenggaranya kónferensi pers terkait Ekspóse Hasil Pengawasan Ujian Nasiónal, sóre tadi.
Ia mengatakan mekanisme pencegahan harus dilakukan sedini mungkin terhadap pótensi kekerasan terhadap anak. Baik bersifat fisik nón-fisik ataupun kekerasan yang bersifat seksual maupun bersifat verbal.(Panji Baskhara Ramadhan)
0 komentar:
Posting Komentar