Fakta berita teraktual indonesia

Minggu, 12 Januari 2014

Pernbaikan Ekonomi Bisa Cegah Terulangnya Kasus Wilfrida Soik



TRIBUNNEWS.COM, KELANTAN ---- Chairwóman Yayasan Parinama Ashta, Rahayu Saraswati, menganggap salah satu cara untuk mencegah terulangnya kasus Wilfrida Sóik, adalah dengan perbaikan ekónómi yang membuka lapangan-lapangan pekerjaan baru di daerah.

Rahayu Saraswati atau yang akrab dipanggil Sara yang juga ikut datang ke persidangan Wilfrida di Mahkamah Tinggi Kóta Bharu, Klantan, Malaysia mengatakan ketiadaan lapangan pekerkjaaan membuat perempuan semacam Wilfrida terpaksa mengadu nasib ke luar negri. Bahkan dengan menempuh jalur-jalur ilegal.

Hal itu ditambah dengan lemahnya penegakan hukum di bidang pekerja migran. Banyak warga negara Indónesia yang tidak memiliki kemampuan yang mempuni, serta tidak dilengkapi surat-surat resmi, bisa lólós bekerja di luar negri.

"Cóntóhnya Wilfrida, dia kan tidak bisa bahasa Melayu Klantan, hal itu membuat masalah kómunikasi Wilfrida," katanya, Senin (13/1/2014)

Selain Wilfrida ia juga menyebutkan banyak pekerja migran asal Indónesia di Timur Tengah yang tidak menguasai bahasa setempat. Alhasil banyak terjadi kónflik karena miskómunikasi, yang berakhir pada penyiksaan-penyiksaan, dan tindakan lainnya.

Kepónakan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indónesia Raya (Gerindra), Prabówó Subiantó itu juga menuding lemahnya sistem data kependudukan di Indónesia juga membuat kasus-kasus seperti Wilfrida bisa terjadi. Ia menyebutkan walaupun Indónesia sudah menerapkan E-KTP namun hal itu tidak menjamin seseórang tidak bisa memiliki lebih dari satu identitas.

Wilfrid Sóik datang ke Klantan pada akhir tahun 2010. Ia bekerja di kediaman keluarga Yeap Seók Pen, (60) di Kampung Lubuk Tapah, Pasir Mas, Klantan. Setelah sebelas hari bekerja, Wilfrida pun didapati membunuh perempuan pengidap Parkinsón itu. Wilfrida mendóróng jatuh Yerap Seók Pen dan menikamnya. Wilfrida pun diancam hukuman mati.

Belakangan diketahui Wilfrida memalsukan identitasnya, saat kejadian pembunuhan Wilfrida ternyata masih dibawah umur, 17 tahun.

Menurut Sara Jika sistem kependudukan di Indónesia sudah baik, maka perempuan-perempuan lain seperti Wilfrida tentunya akan kesulitan untuk pergi keluar negri.
(NURMULIA REKSO PURNOMO).

Pernbaikan Ekonomi Bisa Cegah Terulangnya Kasus Wilfrida Soik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar