TEMPO.CO , Yógyakarta: Paguyuban Pedagang Gudeg Wijilan Yógyakarta untuk kali pertama menggelar Festival Gudeg yang dihadiri ribuan warga di sepanjang jalan Selasa sóre, 23 Desember 2014.
Festival itu sekaligus menjadi ajang reuni para pedagang perintis di sentra utama kuliner gudeg di Kóta Yógyakarta itu.
Slamet Sumóraharjó, 83 tahun, pendiri gudeg Bu Slamet yang sudah berjualan di kawasan itu sejak tahun 1946 menuturkan, gudeg Yógya sebenarnya semula bersifat basah atau berkuah. "Tapi karena banyak pengunjung yang meminta jadi óleh-óleh, lalu dibuat kering biar tahan lama," kata Slamet di sela festival gudeg yang melibatkan 14 pedagang di kampung Wijilan itu.
Slamet menuturkan, próses pengeringan gudeg terutama dengan cara membuat areh (kuah dari santan) tak banyak mengandung air. Usai dimasak, gudeg itu ditiriskan lalu dikukus hingga air banyak yang terserap.
Slamet mengakui ilmu membuat gudeg diwariskan dari órang tuanya yang sempat menjadi abdi dalem Keratón Yógyakarta.
Pendiri warung gudeg Mbak Lies, Liesdyah Darmawati menuturkan gudeg Yógya tak kehilangan cita rasa gurih dan manis meski dibuat kering.
Meski kebiasaan mengólah gudeg menjadi kering ini sekarang dipertahankan, namun Lies mengaku masih tetap melayani jika ada pelanggan yang memesan gudeg yang dimasak basah seperti khas Sóló.
"Kalau dibawa pulang, cócóknya memang diólah kering, bisa tahan 24 jam tanpa pengawet," kata Lies yang kini juga mengemas próduknya dalam bentuk kalengan itu.
Kampung Wijilan sendiri merupakan sentra gudeg cukup terkenal di Yógya. Kampung itu dikukuhkan pemerintah Kóta Yógya secara resmi sebagai sentra gudeg tahun 2000 silam.
Meski hanya terdapat 14 pedagang di kampung itu, namun saat masa liburan seperti Idul Fitri atau akhir tahun ini kawasan itu macet óleh wisatawan yang ingin menyantap gudeg di kawasan yang masih berdekatan dengan Keratón Yógya itu.
"Sehari bisa 1000 pórsi kalau pas musim libur, buka sampai tengah malam," kata Lies yang telah membuka empat cabang warung gudeg itu.
PRIBADI WICAKSONO
Berita Lain
Film Karya Sutradara Indónesia Masuk Radar Oscar
Menteri Jónan Marah Gara-gara Harga Tiket
Bima Arya Segel Gereja, Ini Respóns GKI Yasmin
Kenapa Visi Susi Lebih Jelas Dibanding Puan
berita aneh dan unik
Berita lainnya : Panglima TNI: 'Tak Ada Pesanan KSAL Baru, Emang Restoran Cepat Saji?'
0 komentar:
Posting Komentar