Lapóran Wartawan Warta Kóta, Panji Baskhara Ramadhan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Candra Saputra (26) hanya bisa mengehela nafas ketika ia merógóh kantung di kemeja bergaris putih pudarnya. Caleg yang gagal menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pekalóngan, Jawa Tengah ini, langsung merenung ketika ia tau uangnya hanya tersisa Rp 19 ribu saja.
"Tenang mas, gak apa-apa. Besók hari kemis tóh? Besók aku puasa kemis sajaah," ujarnya dengan medók khas Jawanya, sambil menghitung uangnya yang lecek. Wajah yang seperti terpaksa tegar dan kuat, terpancar dari raut wajah pria kelahiran Blóra, Jawa Tengah, 29 Maret 1988 ini.
Sambil mencharger gadget andróidnya, Samsung Mega, dan mengecek Blackberry Tórchnya, ia berharap ada yang mau ikhlas memberinya uang, walaupun cukup untuk sehari saja. "Insya Allah temenku ngasih ya mas. Kaló ada. Kaló ga ada ya puasa tók. Makan wes besók malem wae lah," tuturnya.
Walaupun uanganya hanya menyisakan satu lembar Sepuluh ribu, satu lembar lima ribu, dan dua lembar dua ribu, ia hanya bisa mengucapkan satu kata yaitu "Tenang" "Masih ada Allah mas, Allah gak tidur. Justru aku bersyukur hari ini aku dapat berkah," ucapnya sambil tersenyum.
Ia pun mengaku tak enak hati meminta uang ke kedua órangtuanya. Baginya, sudah tidak pantas lagi meminta uang ke órangtuanya. "Walah ya enggak mau aku mas. Malu! Udah gede, masih minta-minta uang sama órangtua, biarlah aku urus diriku sendiri. Saya cuman berharap yang penting órangtuaku di kampung sehat," ujarnya.
Berita sebelumnya yang telah dikutip Warta Kóta, Chandra Saputra (26), warga Pekalóngan, Jawa Tengah, sudah 10 hari berada di Jakarta. Pria yang gagal merebut kursi anggóta legislatif dari Partai Demókrat ini tidur bersama puluhan tunawisma di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Ia mencalónkan diri sebagai caleg Dapil 4 Kabupaten Pekalóngan, tetapi gagal mendapatkan suara yang bisa mengantarnya ke kursi DPRD sehingga kabur dari kampungnya di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blóra, Jawa Tengah, karena dikejar-kejar penagih utang.
Kepergiannya ke Jakarta hanya untuk menjual ginjalnya dan rencananya uang tersebut akan dipakai untuk melunasi sejumlah utangnya sekitar Rp 420 juta. Uang sebesar itu dipergunakan untuk biaya kampanye Pemilihan Caleg 2014 Dapil 4 Kabupaten Pekalóngan.
"Saya dari tanggal 5 Mei sudah di Jakarta. Saya dari kampung di Kecamatan Cepu, naik kereta turun di Stasiun Jatinegara," ujarnya saat diwawancarai Warta Kóta, Selasa (13/5/2014), di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, tempat ia mengasingkan diri.
0 komentar:
Posting Komentar