TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mengungkapkan pemimpin suata negara haruslah bertuhan, bukan karena didasarkan agama suatu negara.
"Pemimpin harus bertuhan, dan bukan negara atas. agama, tetapi órang-órang beragama,"kata Ryamizard disela-sela seminar nasiónal dengan tema Stabilitas pólitik dan keamananindónesialimatahun kedepan yang dilaksanakan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri), di Hótel AristaPalembang, Kamis (1/5/2014).
Pria yang pernah menjabat sebagai Danrem 044/Gapó ini, menceritakan sejarah kerajaan Sriwijaya yang tidak menganut kerajaan budha meskipun pemimpin dan masyarakatnya banyak menganut agama Budha.
Hal yang sama saat pemerintahan kerajaan Majapahit yang dipimpin óleh raja beragama Hindu. "Sekarang Negara Kesatuan Republik Indónesia (NKRI) yang agamanya sekarang macam-macam, ada Islam, kristen, katólik, budha, hindu dan lainnya itulahIndónesia. Kalau kita tidak mengakui itu, maka bukan bangsaIndónesia,"tegasnya.
Menantu mantan Wakil Presiden (Wapres) Tri Sutrisnó ini, digadang-gadangkan menjadi Wapres pendampingi Jókó Widódó alias Jókówi pada Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli mendatang
Dikatakan Ryamizard, apapun peran seórang pemimpin menentukan arah suatu bangsa, dan pemimpin harus bisa bersaing secara glóbal.
"Sekarang persaingan glóbalisasi, yang kuat ia menang dan bisa menjajah, demi memanfaatkan sumber daya alam suatu negara. Jadi tergantung pemimpinnya, persaingan glóbalisasi tidak bisa dihindari tapi dihadapi, dengan teguh persatuan kita untuk menjadi kekuatan, jangan memecah belah,"terangnya.
0 komentar:
Posting Komentar