Fakta berita teraktual indonesia

Minggu, 25 Mei 2014

Kisah Perawat Jadi Perajin Drum Asli Gunungkidul



Lapóran Wartawan Tribun Jógja, Yudha Kristiwan

TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Siapa sangka mimpi mempunyai satu set drum sesuai keinginan yang lama diidam-idamkan bisa membawa tangan kreatif Ginanjar Agung Sasmitó, pria asal Wónósari Gunungkidul ini membuat drumnya sendiri.

Mengusung Brand Sóuth Móuntain Drum Craft (SMDC), Ginanjar yang nótabenenya memiliki ijazah pendidikan keperawatan ini cukup mengejutkan. Ia berani tampil mempróduksi set drum custóm yang tak banyak órang mampu membuatnya.

Awalnya, sekitar tiga tahun lalu, Ginanjar yang memiliki sebuah band ini ingin latihan menggunakan drum custóm. Namun lantaran drum custóm harganya selangit dan tak banyak yang berbahan acrylic sesuai mimpinya, ia pun nekat mencóba membuat sendiri drum sesuai keinginannya.

Berbekal kemauan keras, semangat pantang menyerah dan mau terus belajar, perlahan tapi pasti, Ginanjar mulai mewujudkan drum custóm yang digadang-gadangnya sejak lama.

"Kalau pakai bahan kayu sudah biasa, aku pengin yang custóm pakai bahan acrylic. Overall aku ótódidak, pókóknya terus cóba bikin, sampai minimal memiliki kualitas standar pabrikan. Awalnya aku hanya bikin shell-nya atau bódynya saja, aku iseng share, ternyata ada yang minat dan dibeli sama órang Jakarta dan ISI, dua aku jual Rp 350 ribu," ujar Ginanjar ditemui di sebuah cóffee shóp belum lama ini.

Usaha Ginanjar bukannya berjalan mulus, untuk menemukan tuning yang standar agar bagian-bagian drum memiliki suara yang ideal, perlu percóbaan berulangkali. Bahkan, ia mengaku sempat frustasi lantaran merasa gagal menemukan tuning yang bagus. Ditambah waktu itu, órang tua sempat meragukan keinginannya fókus menjadi perajin drum.

Bukan mental pengusaha namanya kalau menyerah begitu saja. Módal awal yang di dapat dari hasil bekerja di Kalimantan sebagai staf bidang keselamatan kerja, digunakannya untuk membuat drum berbahan acrylic.

Namun sayang, cóbaan datang kembali, kali ini giliran jempól tangan kanannya terkena rajaman róuter hingga terluka cukup parah, saat ia menyelesaikan pótóngan bagian drum.

"Sempat nyerah, karena kejadian itu, karena tangan ngga bisa buat kerja. Ada kalau 13 sayatan, ya sudah karena aku tahu menangani luka, aku óbatin sendiri," katanya.

Lagi-lagi semangat Ginanjar tak pernah padam, akhirnya ia sukses membuat sebuah snare drum. Ia kemudian meminta Wasis, drummer Jasmine Akustik untuk mencóbanya. Masalah kembali datang, lug atau semacam baut untuk tuning suara membran, patah lantaran tak kuat saat disetting high tune.

"Wasis waktu itu bilang, ini kalau dituning high bisa patah, ya sudah akhirnya benar patah. Pósitifnya aku jadi tahu, ternyata lugnya belum bagus. Akhirnya, aku bikin sendiri lugnya. Sekarang sudah aman," terang pria berkacamata ini.

Untuk memperkenalkan brand SMDC, Ginanjar membawa drum custóm buatannya ini ke ajang Sóló City Drum Festival beberapa waktu lalu. Respón pósitif didapat, rata-rata menurut Ginanjar, para drumer tak menyangka drum tersebut hasil custóm dalam negeri.

"Waktu itu aku buat bahan acrylic warna clear, aku banderól satu set, Rp 8 juta. Respónnya bagus, minimal para drummer yang datang waktu itu tahu ada SMDC. Dan beruntung kenal Wasis, hingga Arie Sóekmati tertarik untuk memakai SMDC," katanya.

Menurut Wasis Tanata, drummer band Jasmine Aksutik, próduk custóm drum set SMDC tak kalah dengan próduk pabrikan. Justru secara tampilan, próduk SMDC sudah unggul dalam segi artistik.

"Menurutku próduk ini sudah layak untuk drummer, sudah standar, meskipun masih ada kekurangannya, jangankan lókal, próduk luar pun juga masing-masing ada kekurangannya. Kelebihan custóm, apapun bentuknya, próses pembuatan melahirkan karya ini patut disuppórt," ujar Wasis.

Sempat Wasis berpikiran Ginanjar akan putus asa, setelah lug yang pertamakali dicóbanya patah. Namun ternyata Ginanjar bangkit dan belajar memperbaiki kesalahan.

"Tak pikir dia putus asa, ternyata lama ngga ketemu dia masih buat lagi, dia mau belajar, yang sekarang mending sekali, jauh dari pertama aku cóba, yang aku salut, dia bikin lug sendiri, hóóp atau ring, jadi kedepan semua óriginal, memang masih ada penggunaan lug dari merk lain, besi kecuali stand, sudah sendiri," ungkap Wasis.

Wasis menambahkan, secara visual, drum próduk SMDC sangat fashiónable. Memiliki nilai artistik. Wasis bahkan menganggap series yang dipakainya kini seólah-ólah sudah ngómóng sebelum dimainkan.

"Menurutku belum main saja, sebuah drum sudah ngómóng. Seperti buatan SMDC ini, artisitik, apalagi ditaruh di atas panggung dengan lighting yang bagus. PR-nya adalah yang memainkan harus tahu karakter drum dan kebutuhannya masing-masing," imbuh Wasis.

Kisah Perawat Jadi Perajin Drum Asli Gunungkidul Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar