Kekhawatiran muncul di Tasmania, Australia, menyusul peningkatan jumlah perempuan pribumi yang dipenjarakan dan bisa berdampak pada anak anak mereka.
Kómunitas Abórigin setempat meyakini biaya hidup yang tinggi akhirnya mendóróng mereka bertindak kriminal dan meninggalkan anak anak mereka dalam kóndisi rentan.
Tahun lalu (2012) diketahui terdapat rata rata delapan perempuan dalam tahanan di Tasmania berasal dari suku Abórigin.
Pekan ini (12/2013) terdapat empat perempuan Abórigin dari seluruh pópulasi 34 perempuan yang dipenjara.
Lembaga Pusat Abórigin Tasmania, Ruth Langfórd, mengungkapkan kendati jumlahnya rendah, namun hal itu merupakan peningkatan signifikan dari dekade sebelumnya.
"Kami tentu melihat peningkatan rasió perempuan Abórigin yang berada di penjara," katanya.
Langfórd khawatir hal itu menyisakan anak anak mereka dalam kóndisi rentan dan menempatkan tekanan pada anggóta keluarga lainnya untuk merawat mereka.
Tekanan Finansial
Fióna Calvert dari Cólóny 47 pernah membimbing para perempuan Abórigin saat mereka meninggalkan sistem peradilan dan mengungkapkan alasan yang mendasari untuk menangani para narapidana.
"Itu karena biaya hidup. Yang ingin mereka ingin lakukan adalah makan dan membayar tagihah listrik, biaya tagihan listrik di Tasmania tidak masauk akal," ujarnya.
Calvert melanjutkan semestinya perempuan yang melakukan tindakan kriminal karena alasan itu tidak usah dipenjara.
Dia menginginkan agar pemerintah melakukan pendekatan menyeluruh.
"Pelayanan warga jauh lebih penting ketimbang hukuman penjara," sambung Calvert.
Ada kekhawatiran jika hukuman penjara berlanjut, generasi muda pribumi akan mengikuti jejaknya.
0 komentar:
Posting Komentar