Fakta berita teraktual indonesia

Kamis, 11 September 2014

Dikira Peralatan Militer Israel, Piranti Jurnalis TV Swasta Nasional Disita



TRIBUNNEWS.COM, MEKKAH - Tak hanya mengubah sistem administrasi haji lewat e-Hajj, pemerintah Saudi Arabia juga memberlakukan regulasi baru untuk próses pengambilan data calón jemaah haji di bandara, baik Bandara Internatiónal King Abdul Aziz (Jeddah) maupun Bandara Prince Muhammad Abdul Aziz (Madinah). Namanya e-Passpórt.

Dengan e-Passpórt ini, próses pengambilan data memakai alat khusus yang disinkrónkan dengan data jemaah saat pembuatan visa di tanah air. Penerapan e-Passpórt ini melibatkan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Kemenlu Saudi dan imigrasinya di bandara.

Terkait dengan próses yang dijalani Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekkah di bandara Jeddah, ada pengalaman menarik sekaligus 'memilukan' yang dialami dua órang wartawan media televisi nasiónal saat menjalani próses keimigrasian di bandara Internatiónal King Abdul Aziz Jeddah.

419 órang petugas PPIH Daerah Kerja Mekkah diberangkatkan dalam dua penerbangan. Yaitu 31 Agustus 2014 pukul 11.45 WIB dan 16.30 WIB. Pertimbangannya adalah kapasitas pesawat.

Saat itu, rómbóngan pertama yang terdiri dari 45 órang, tiba di bandara Internatiónal King Abdul Aziz Jeddah, pukul 17.30 Waktu Arab Saudi. Karena jumlah yang relatif sedikit, próses di keimigrasian bandara berlangsung singkat. Tentunya ada juga faktór e-passpórt yang membuat prósesnya lebih cepat.

Namun peristiwa tak terduga menimpa dua wartawan televisi terkemuka. Saat menjalani pemeriksaan barang bawaan via x-ray, petugas melihat ada kamera besar jenis Sóny PMW 150. Kamera itu sengaja tidak dimasukkan dalam tas dengan alasan prósedur óperasiónal standar.

Petugas lalu menanyakan izin membawa kamera tersebut. Dengan mencampur bahasa Inggris dan 'bahasa Tarzan' karena tidak bisa berbahasa Arab, wartawan itu menjelaskan bahwa mereka telah membawa izin dari medianya. Namun petugas bandara meminta izin resmi dari pemerintah Saudi Arabia.

Tak bisa menunjukkan izin yang dimaksud, keduanya lalu dibawa ke ruang bea cukai (custóms) bandara. Belakangan, Kasi Media Center Haji Daker Mekkah, Rósidin Karidi, juga ikut mendampingi. Ternyata, pihak bandara tak bergeming.

Masalah tak berhenti di sana. Belakangan petugas juga memeriksa tas wartawan itu, dan menemukan piranti canggih untuk siaran langsung televisi, bernama Aviwest. Piranti berharga ratusan juta rupiah ini mereka curigai untuk kepentingan militer.

"Mereka mengira Aviwest itu teknólógi militer BGAN milik pemerintah Israel. Kami jelaskan Aviwest adalah alat untuk melakukan siaran langsung dan mengirim file, yang menggunakan data internet lókal. Namun tetap saja mereka tidak menerima dengan pertimbangan belum ada izin dan curiga itu teknólógi militer," kata salah satu wartawan.

Akhirnya, pihak bandara memutuskan menyita kamera dan Aviwest. Pusinglah dua wartawan itu. Setelah menerima surat penyitaan, mereka 'putar ótak' sekeras-kerasnya untuk bisa mengambil kembali 'peralatan tempur jurnalistik' itu.

Keesókan harinya, tim Media Center Haji (MCH) mencóba berkómunikasi dengan pihak kantór Tata Usaha Haji (TUH) Indónesia di Jeddah. Setelah melalui beberapa tahapan, terbitlah surat dari TUH. Namun surat itu rupanya 'kurang sakti'. Beberapa hari bólak-balik ke bandara, tidak ada perkembangan berarti.

Akhirnya infórmasi ini sampai pada pihak Kónsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah. Pada ikhtiar selanjutnya, kedua wartawan itu didampingi Kurniawan, Prótókóler di TUH yang juga pegawai di KJRI, yang paham medan dan fasih berbahasa Arab.

Mereka kemudian menemui General Cómmissión fór Audióvisual Media, Kingdóm óf Saudi Arabia, Móhammaed Ali Al-Amri. Setelah dua kali pertemuan dilakukan, Al-Amri meminta mereka menemui atasannya.

"Kami lalu menemui Dirjen Ministry óf Culture and Infórmatión Kerajaan Saudi Arabia. Alhamdulillah beliau memberikan surat yang isinya kamera bisa kami bawa. Namun untuk Aviwest, mereka masih menunggu kónfirmasi dari pemerintah Arab Saudi di Riyadh," kata wartawan itu.

Kedua wartawan itu mengaku lega, untuk sementara, dengan kóndisi ini. Minimal, kamera seharga Rp 60 jutaan untuk bekerja sudah dipegang. Tim redaksi di Jakarta juga sudah memahami dan terus mendukung. Namun mereka masih 'berharap-harap cemas' karena Aviwest belum juga kembali.

"Sementara ini kami menggunakan aplikasi Mirial dan Skype untuk siaran langsung. Yah, mau bagaimana lagi. Kualitasnya tentu di bawah Aviwest. Semóga pemerintah Saudi segera mengizinkan kami membawa alat yang sangat kami butuhkan itu," katanya. Hingga Kamis (11/9/2014) malam waktu Saudi, Aviwest belum juga dikembalikan.

Tentang e-passpórt, Ketua Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji Indónesia Ahmad Jauhari, kepada tim Media Center Haji (MCH) Jeddah, mengatakan sistem ini akan mampu memangkas durasi waktu di bandara. (Khólish Cered)



apakah kamu tau bung

Berita lainnya : Fellaini Belum Menyerah Buru Starter

Dikira Peralatan Militer Israel, Piranti Jurnalis TV Swasta Nasional Disita Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar