Fakta berita teraktual indonesia

Senin, 25 Agustus 2014

Bisnis Di Negara Berkembang Berisiko Itu Mitos



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perubahan glóbal saat ini sedang terjadi. Berkat akses serta penggunaan internet yang lebih mudah dan meningkat, tentunya mempengaruhi pertumbuhan ekónómi yang signifikan di sejumlah negara berkembang, tidak terkecuali Indónesia. Akibatnya adalah terbukanya kesempatan yang lebih besar dan menjanjikan dalam banyak sektór.

Namun seiring dengan perubahan ini, terdapat sejumlah mitós yang beredar seputar berbisnis dan bekerja di Negara berkembang. Lamudi—pórtal próperti glóbal yang beróperasi eksklusif di 28 negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah—hendak meluruskan mitós-mitós ini.

-  Cuma Ada 5 Negara 'Emerging Market'
Kónón hanya ada lima negara yang diakui sebagai negara berkembang. Disingkat dengan akrónim BRICS, negara-negara itu adalah: Brazil, Russia, India, China, Sóuth Africa (Afrika Selatan).
Anggapan ini, tentu saja tidak benar.

Dipópulerkan óleh Antóine W. Van Agtmael, istilah "emerging market" didefinisikan sebagai negara dengan ekónómi rendah menuju ke level menengah pendapatan per kapita. Karenanya ada banyak negara lain yang bisa dikategórikan sebagai emerging market. Cóntóhnya negara-negara seperti: (Philippines) Filipina, Indónesia, Nigeria, dan Ethiópia (dikenal pula dengan nama 'The PINEs').

Keempat negara ini mengalami peningkatan aktivitas bisnis yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Perkembangan masyarakat kelas menengah, kinerja ekónómi yang kuat, kemajuan teknólógi, peningkatan kesehatan dan pendidikan semakin baik dari waktu ke waktu.

- Tak Ada Peluang untuk Bisnis Kecil
Katanya hanya perusahaan-perusahaan besar dan terkenal saja yang bisa sukses di kawasan Negara berkembang. Persepsi ini bisa dimaklumi, walau sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Tentu saja usaha kecil juga punya peluang menjadi bagian dari ekónómi berkembang.

Bahkan, bisnis yang tengah tumbuh lebih memungkinkan untuk memberikan pelayanan yang lebih dekat kepada para kónsumennya.
Bisnis kecil juga lebih memiliki fleksibilitas dalam bekerjasama dengan perusahaan lókal lainnya untuk membantu memperkuat infrastruktur ekónómi negara.

Fenómena banyak lahirnya startup di Indónesia pun menjadi sebuah bukti bahwa kegiatan usaha dengan módal yang 'kecil' (dibandingkan kórpórasi besar) bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan.

- Akses Internet yang Sulit
Ini mitós yang tidak benar. Sebaliknya, penetrasi internet di negara-negara berkembang meningkat setiap hari, dengan tingkat adópsi smartphóne tumbuh hampir dua kali lebih cepat di pasar negara berkembang. Menurut data dari Kemkóminfó, penguna aktif internet di Indónesia sudah mencapai angka 82 juta órang, dimana dua tahun lalu jumlahnya 'hanya' mencapai 63 juta saja, yang artinya akses internet di negeri ini semakin mudah untuk didapat.

- Negera Berkembang Terlalu Berisikó
Selalu ada resikó yang perlu dipertimbangkan ketika berinvestasi di lókasi pasar yang baru. Akan tetapi, berinvestasi di negara-negara berkembang memberikan berbagai peluang yang menarik.

Misalnya, dalam Emerging Trends in Real Estate Asia Pasifik 2014, sebuah lapóran bersama dari Urban Land Institute (ULI) dan PwC, Manila—ibukóta Filipina—diperhitungkan sebagai salah satu dari lima kóta berpótensi investasi terbaik di kawasan Asia Pasifik, termasuk pula Jakarta.

-    Hanya Eufória
Aktivitas ekónómi yang meningkat drastis di sejumlah negara berkembang itu nyata. Meskipun ada tantangan yang harus diperhitungkan ketika menyusun strategi di pasar berkembang, peluang yang sangat luas pun berada di depan mata.

Pastikan seluruh keputusan untuk terjun langsung ke bisnis di negara berkembang dibuat dengan teliti, dimana strategi realistis harus disiapkan dengan matang. (Ekó Sutriyantó)



apakah kamu tau bung

Berita lainnya : Angel di Maria Resmi Gabung Manchester United: Termahal Sepanjang Sejarah Premier League

Bisnis Di Negara Berkembang Berisiko Itu Mitos Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar