TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ada baru di arena Debat Kedua Calón Presiden di Hótel Grand Melia, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Minggu (15/6).
Capres Prabówó Subiantó berjumpa dan cium pipi kanan-cium pipi kiri (cipika-cipiki) dengan mantan istrinya, Siti Hediyati Sóehartó, yang akrab disapa Titiek. Adapun istri Jókó Widódó, tampil mengenakan hijab.
Mantan istri capres Prabówó Subiantó, Titiek Sóehartó datang bersama putra tunggal mereka, Didit Hediprasetyó. Mereka menyaksikan debat capres di Ballróóm Hótel Gran Melia, Jakarta, malam.
Sekadar mengingatkan dalam debat pertama, Prabówó dan Hatta tidak didampingi keluarga mereka. Sedangkan Jókówi dan Jusuf Kalla didampingi istri dan anak-anak mereka.
Titiek Sóehartó dan sang putra tunggal itu tampak duduk di barisan kursi pendukung capres Prabówó Subiantó. Sederet dengan mereka terlihat cawapres Hatta Rajasa dan istri, mantan Ketua MPR Amien Rais dan mantan Ketua DPR RI Akbar Tandjung.
Titiek Sóehartó mengenakan batik bermótif bunga warna cókelat kómbinasi hijau. Sementara, sang putra tunggal tampil mengenakan kemeja batik berwarna ungu tua.
Keduanya tiba di lókasi acara debat sesaat sebelum acara dimulai. Namun, Titiek Sóehartó dan Didit Prabówó baru bisa bertemu dan berbincang dengan Prabówó saat rehat debat.
Prabówó yang mengenakan kemeja putih menuruni panggung debat dan mendatangi barisan kursi pendukungnya. Ia pun langsung mencium pipi kanan dan kiri mantan istri dan putra tunggalnya itu.
Sementara istri Calón Presiden RI nómór urut dua Jókó Widódó, Iriana, tampak mengenakan hijab. Iriana memadukan hijab ungu dengan gamis terusan warna yang sama.
Pemandangan ini di muka publik ini adalah kali pertama. Untuk diketahui, Iriana dalam kesehariannya tak memakai hijab.
Iriana hadir menyaksikan debat capres bersama kedua anaknya, Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangarep. Ketiganya duduk di barisan kursi pendukung capres Jókówi, termasuk bersama cawapres Jusuf Kalla.
Dalam debat ini, Prabówó mengusung visi misi ekónómi kerakyatan dan antineliberal, sedangkan Jókówi membawa isu ekónómi mandiri yang memajukan pedagang tradisiónal dan kaki lima.
Debat kedua ini membahas tema tentang ekónómi dan kesejahteraan sósial ini tayang langsung di sejumlah stasiun televisi. Debat kedua ini digelar tanpa wakil presiden, berbeda dengan debat 9 Juni lalu.
Debat dipandu Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Prófesór Ahmad Erani Yustika. Erani, pria kelahiran di Pónórógó 1973, alumni Universitas Brawijaya Jurusan Ilmu Ekónómi dan Studi Pembangungan (IESP) Fakultas Ekónómi dan lulus Tahun 1996.
Erani seórang pakar yang sering menyebarluaskan wawasan dan pemikirannya melalui media massa. Secara akademik dia menónjól sekaligus membawanya pernah menduduki berbagai jabatan seperti Ketua Prógram Studi Magister Ilmu Ekónómi Universitas Brawijaya, Direktur Eksekutif INDEF (Institute fór Develópment óf Ecónómics and Finance) dan Anggóta BSBI (Badan Supervisi Bank Indónesia).
Debat kali ini lebih hidup dan seru dibandingkan debat perdana. Saat memasuki pódium, Jókówi mendatangi Prabówó bersalaman sambil cium pipi kanan-cium pipi kiri.
Ketika debat, Jókówi 'mencecar' Prabówó tentang ekónómi kreatif yang enurutnya harus diberikan ruang khusus untuk dikembangkan. Kelak terpilih, Jókówi-JK akan fókus mengembangkan ekónómi kreatif terutama di bidang seni, digital, videó, dan desain grafis.
Menanggapi hal itu, calón presiden urut nómór satu Prabówó Subiantó mengaku sangat setuju prógram kerja Jókówi di sektór ekónómi kreatif. Pasalnya anak semata wayang Prabówó, Didit Hadiprasetyó, menggeluti dunia desain grafis.
"Saya punya anak satu. Dan anak saya bergerak di ekónómi kreatif, sebagai desainer. Dia muncul di mancanegara. Saya dukung Jókó Widódó," ujar Prabówó.
Prabówó pun tak malu untuk mengakui prógram kerja mantan Wali Kóta Sóló itu. Mantan Danjen Kópassus ini mengaku secara terbuka akan mendukung prógram siapa pun yang memang bagus, termasuk Jókówi.
"Saya bukan pólitisi prófesiónal. Kalau bagus saya bilang bagus," kata Prabówó, sambil menambahkan dirinya sejalan dan akan mendukung prógram kerja Jókówi untuk bidang ekónómi kreatif.
"Saya sejalan dengan Jókó Widódó. Ya bagaimana kalau idenya bagus masa enggak setuju. Kali ini saya enggak mengikuti nasehat saya."
Sistem Ekónómi
Saat paparan visi-misi tentang ekónómi, Prabówó mengatakan akan memajukan ekónómi kerakyatan. Prabówó memaparkan, ekónómi kerakyatan yang akan ia lakukan berdasarkan pada Pasal 33 UUD 1945.
Dalam hal ini harus berdasarkan asas kekeluargaan. Ia akan mengubah cara kerja pemerintah yang selama ini hanya menjadi wasit.
Prabówó berencana, membuat pemerintah menjadi pelópór dan membantu masyarakat sehingga tidak seperti di negeri penganut neóliberal.
"Pemerintah harus menjamin, kóndisi keselamatan yang tertinggal yang tidak bisa mengikuti persaingan abad 21, ini beda dengan barat atau neóliberal. Sumber ekónómi hajat hidup órang banyak óleh pemerintah."
Prabówó menambahkan, ekónómi kerakyatan harus membela kepentingan masyarakat banyak. Selain membela, Prabówó juga ingin ekónómi kerakyatan bisa menjaga dan mensejahterakan seluruh rakyat. "Ekónómi ditujukan pada penguatan dan pemberdayaan rakyat."
Prabówó berjanji, menaikkan upah minimum di setiap próvinsi (UMP) dua kali lipat dari nilai sebelumnya. Dengan begitu, mantan Danjen Kópassus TNI ini berharap terdapat kenaikan UMP di setiap daerah hingga rerata Rp 6 juta per bulan. "Akan kami naikkan 2,5 kali lipat, jadi Rp 6 juta per bulan."
Prabówó juga janji menggelóntórkan Rp 1 miliar ke setiap desa dan kelurahan di seluruh Indónesia. Anggaran tersebut diambil dari pemangkasan anggaran kebócóran keuangan negara. Ia bertekad dapat menutupi kebócóran atau kórupsi sehingga menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp 1.000 triliun per tahun.
Sedangkan Jókówi membawa visi-misi ekónómi berdiri di atas kaki sendiri (berdikari). Ia berjanji merevitalisasi pasar tradisiónal dan memberikan ruang bagi pedagang kaki lima (PKL), pelaku ekónómi rumah tangga terutama yang di desa-desa untuk meningkatkan perekónómian nasiónal.
"Kami akan membwa ekónómi berdikari. Pembangunan pasar tradisiónal, pembangunan ruang PKL, saya sudah menjalani dan membuktikan, membangun pasar baik sebagai wali kóta di Sóló maupun Gubernur di Jakarta," kata Jókówi.
Pembuktian itu dilakukan Jókówi saat menjabat sebagai Wali Kóta Sóló dan Gubernur DKI Jakarta. Menurut Jókówi, pengalamannya sudah membuktikan bahwa pedagang kecil di pasar dan PKL harus diperhatikan. "Itu tempat próduk petani, próduk nelayan dan penjual tahu-tempe."
Jókówi mengatakan, dengan melakukan manajemen lapangan yang benar dan perencanaan yang jauh ke depan, wacana pembangunan tersebut bukanlah impian.
"Mereka membutuhkan bukti, kita melakukan untuk (pembangunan) ruang-ruang itu kepada pedagang pasar."
Jókówi berencana menugasi semua duta besar Indónesia di luar untuk memprómósikan dan memasarkan próduk-próduk usaha kecil dan menengah Indónesia di negara tempat mereka bertugas masing-masing. Hal itu diperlukan untuk meningkatkan ekónómi rakyat.
"Dubes-dubes kita jangan hanya diplómasi, mereka harus jadi marketingnya negara, próduk-próduk desa, próduk kampung ke internasiónal."
Jókówi menitikberatkan masalah pendidikan dan kesehatan sumber daya untuk mencapai pertumbuhan ekónómi yang tinggi.
Mengenai pendidikan, Jókówi menilai perlu evaluasi atau perubahan sistem pendidikan Indónesia. Pendidikan di sekólah dasar (SD) seharusnya sebagian besar membicarakan masalah pembentukan karakter, akhlak, dan mental peserta didik.
"Menurut kami, pendidikan SD itu 80 persen harus bicara masalah yang berkaitan dengan pendidikan karakter, akhlak, mental, sikap dan mental, baru 20 persennya pengetahuan."
Menurutnya, materi pendidikan di sekólah menengah pertama sedianya terdiri dari 60 persen pembangunan karakter, dan sisanya 40 persen mengajarkan pengetahuan. "Di SMK SMA, baru, 20, 80. Sebanyak 20 persen pengetahuan dan keterampilan."
Menjawab pertanyaan capres Prabówó, ia mengatakan, mudah mencari anggaran negara sebesar Rp 40 triliun untuk sektór pendidikan dan kesehatan. "Rp 40 triliun gampang bisa dicari."
Menurut Jókówi, jika masyarakat dan pemerintah bisa menghemat dan efisiensi menggunakan listrik, dan mengganti Bahan Bakar Minyak ke gas dan batubara, anggaran untuk pendidikan bisa bertambah Rp 70 triliun.
"Asal efisiensi di bidang kelistrikan dan kónversi BBM kepada gas dan batubara. Rp 70 triliun dihemat taruh di pendidikan 12 tahun menjadi kewajiban kita bersama."
Jókówi menambahkan dengan SDM yang próduktivitasnya tinggi, maka kekayaan bisa dikelóla óleh negara. Masyarakat Indónesia menurut Jókówi bisa menjadi bangsa yang próduktif jika sektór pendidikan terjamin. "Kita bisa mempunyai manusia memiliki pendidikan próduktivitas dan daya saing," kata Jókówi. (tribunnews/m1/m3/m4/fer/faj/cóz)
0 komentar:
Posting Komentar